Latest News

Article
Literature

Gallery

Dosen

Video

Games

Recent Posts

Keberanian Tokoh-Tokoh Pers dan Sejarah Singkat Pers Indonesia


Sejarah perkembangan pers di Indonesia dimulai sejak masa kolonial Belanda. Fungsi pers pada masa itu hanya dipergunakan untuk membela kepentingan kolonial Belanda. Namun, para pejuang kemerdekaan Indonesia juga menggunakan jurnalistik sebagai media untuk melawan kolonial Belanda. Pada masa itu juga, media jurnalistik hanya berbahasa Belanda. Namun, tidak berlangsung lama, orang-orang pergerakan Indonesia mengusahakan berdirinya pers nasional yang dikelola sendiri untuk memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia yang terjajah.

Pada masa itu, surat kabar yang beredar di Indonesia adalah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Baroe, dan Medan Prijaji. Kemudian berlanjut ke masa pendudukan Jepang, koran-koran tersebut dilarang untuk terbit dan beredar. Pada saat itu, semua media pers langsung berada di bawah komando Jepang. Jepang menggunakannya untuk alat propanganda melawan sekutu. Semua koran yang berbahasa Belanda dilarang untuk terbit. Namun, pers Indonesia pintar memanfaatkan kondisi yang ada, mereka meratakan penggunaan Bahasa Indonesia ke seluruh pelosok tanah air. Tebukti dengan munculnya lima surat kabar baru yang diberi izin oleh pemerintah Jepang. Surat kabar tersebut diantaranya adalah Asia Raja, Sinar Baru, Sinar Matahari, Suara Asia dan Tjahaja.

Awal sejarah pers nasional Indonesia juga bisa dikatakan ketika terbitnya koran mingguan Medan Prijaji pada tahun 1907 yang didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo dan Raden Djokomono. Koran inilah yang kali pertama di pegang oleh orang Indonesia setelah sebelumnya dikuasai oleh kolonial Belanda. Koran Medan Prijaji ini juga menjadi awal pers Indonesia dalam melawan kewenengan penguasa dan menyerukan agar bangsa Indonesia mengorganisasi diri untuk menghadapi pihak-pihak asing.

Kemerdekaan Indonesia pada tangal 17 Agustus pun menjadi momentum yang sangat berharga bagi dunia jurnalistik Indonesia. Sebab pada saat itu, pemerintah menggunakan radio sebagai informasi dan komunikasi menyebarkan berita ke seluruh pelosok tanah air. Selain radio, pemerintah pun kemudian mendirikan Televisi Republik Indonesia atau yang sekarang kita kenal yaitu TVRI ketika menjelang penyelenggaraan Asean Games ke-4 pada tahun 1962. 
Memasuki pemerintahan Soeharto, banyak terjadi kasus pelarangan penyiaran media massa diantaranya terjadi pada Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo. Para aktivis jurnalis juga ada yang di penjara pada masa itu.

Kebebasan pers akhirnya terjadi pada masa selepas Soeharto menjabat. Pada saat BJ Habibie memimpin, banyak media pers yang bermunculan menyerukan pendapatnya sebagai efek dari dibebaskannya hak mengemukakan pendapat dan hak berbicara yang sulit didapatkan pada pemerintahan Soeharto.

Di Indonesia, kegiatan jurnalistik ini diatur di dalam UU Pers no 40 tahun 1999 yang diterbitkan oleh Dewan Pers dan UU Penyiaran no 32 tahun 2002 yang diterbitkan oleh KPI atau biasa dikenal sebagai Komisi Penyiaran Indonesia.
 
Selain membahas mengenai sejarah singkat, kita juga akan membahas beberapa tokoh pers Indonesia yang menginspirasi diantaranya

1.      Tirto Adhi Soerjo


Pria  yang memiliki nama lengkap Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo  ini lahir di Blora tahun 1880. Tirto dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Seluruh pekerjanya adalah orang pribumi Indonesia asli. 

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga sangat berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. 

Sudarjo Tjokrosisworo dalam bukunya Sekilas Perjuangan Surat kabar (terbit November 1958) menggambarkan Tirtohadisoerjo sebagai seorang yang pemberani. "Dialah wartawan Indonesia yang pertama-tama menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat umum, dengan berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pihak kekuasaan dan menentang paham-paham kolot. Kecaman hebat yang pernah ia lontarkan terhadap tindakan-tindakan seorang kontrolir, menyebabkan Tirtohadisoerjo disingkirkan dari Jawa, dan dibuang ke Pulau Bacan," tulis Tjokrosisworo.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

2.      R. DARMOSOEGITO
Darmosoegito adalah tokoh pers yang berasal dari Demak. Beliau lahir pada 5 Juni 1982. Karya nya yang sangat terkenal, yaitu tulisan sambung di harian pemandangan Jakarta pada tahun 1937-an. Beliau membuat tulisan yang sangat pedas mengenai para pengganggu keamanan dan penyelewengan ketidakadilan. Sebelum tulisan yang di muat di harian pemandangan Jakarta, beliau sudah berani membuat tulisan yang menentang terhadap hal-hal yang kurang tepat. Beberapa karya nya juga sudah dimuat dalam harian Bramartani, Djawi Kando, Djawi Hiswara, Pasopati, Madjapahit, Darmo Kondo, Taman Pewarta, Taman Sari, Selompret Melajoe, Sinar Djawa, dan masih banyak lagi. Beliau tutup usia pada umur 80 tahun tepatnya pada tanggal 9 Oktober 1972.



3.      Mochtar Lubis

Mochtar Lubis terkenal sebagai pemimpin umum dan pemimpin redaksi surat kabar Indonesia Raya yang pernah mengalami dua kali masa terbit, yaitu pada zaman Orde Lama (1949-1958) dan Orde Baru (1968-1974).

Mochtar Lubis adalah seorang tokoh pers yang terkenal akan keberaniannya dalam melawan hal yang batil. Mochtar memiliki sifat yang teguh pada keyakinan dan memperjuangkan demokrasi hak warga negara sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang terbaik.

“....sewaktu kita dulu berjuang, ratusan ribu teman kita telah mati untuk merebut suatu kemerdekaan. Pengorbanan itu kemudian ada artinya buat kita. Apakah 100 orang yang bekerja pada kita lalu kita hendak mengorbankan prinsip kemerdekaan pers,” ucap Mochtar Lubis seperti dalam tulisan Atmakusumah “Mochtar Lubis dan Indonesia Raya”.

Mochtar juga terkenal akan keberanianya memberitakan tentang kasus korupsi. Karena itu, Ia di penjara oleh dua presiden, sementara surat kabarnya dihentikan untuk terbit hingga enam kali. Selain itu, Mochtar juga sangat berani mengkritik rezim Soekarno, walau pada akhirnya ia harus di penjara selama lima tahun. 

Mochtar adalah tokoh pers yang telah terbukti dapat mempertahankan integritasnya sebagai wartawan yang selalu menyuarakan kebenaran. Ia juga memperoleh penghargaan sebagai salah satu dari 50 “Pahlawan Pers Dunia”. Anugerah itu seperti ditulis Jurnal Media Watch and Consumer Center yang diberikan oleh International Press Institute (IPI). Upacara pemberian penghargaan dilakukan di Boston, Amerika Serikat. Mochtar Lubis juga orang pertama yang mendapat Ramon Magsaysay Award, tahun 1958. (IDY/SFR)

Social Media



Our Contact

econochannel@gmail.com